Personal Blog and IT Content, Updates & Tutorial Sharing Web Blog.

Benny Setiadi

My Personnal Blog

Jumat, 02 Maret 2012

Penalaran : Induksi dan Deduksi

Penalaran

Penalaran adalah cara atau pola pikiran seseorang dalam menarik hasil kesimpulan tentang pendapat dan pernyataan yang diterima sebelum mengemukakan kepada orang lain.

Ada dua macam pola penalaran, yaitu:

1. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.

Deduktif dari kata ‘de’ dan ‘ducere’, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum. Jadi, deduksi adalah pola penyimpulan pikiran dari hal yang umum ke hal yang khusus. Penalaran deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut.

Contoh penalaran deduktif :

Semua Dosen pasti pernah kuliah (premis mayor)

Kakak adalah Dosen. (premis minor)

Dosen pasti pernah kuliah. (kesimpulan / implikasi)

Deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus. Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi)

Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif.

2. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa hal yang umum berdasarkan atas fakta-fakta ke kesimpulan yang bersifat khusus.

Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.

Contoh Penalaran Induksi :

Premis 1 : Mahasiswa Sistem Informasi mendapat mata kuliah softskill

Premis 2 : Mahasiswa Sistem Komputer mendapat mata kuliah softskill

Premis 3 : Mahasiswa Teknik Informatika mendapat mata kuliah softskill

Premis 4 : Mahasiswa Psikologi mendapat mata kuliah softskill

Konklusi : Setiap Mahasiswa mendapat mata kuliah softskill

Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.

Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.

Sumber Referensi :

http://www.id.wikipedia.org

Share:

Siapa Saya?

Siapa Saya?

Nama saya Benny, nama lengkap Benny Setiadi. Lahir di Kota Pangkalpinang yang saat itu masih termasuk provinsi Sumatera Selatan, tetapi sekarang dikenal dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang sendiri adalah ibukota provinsinya. Tanggal lahir 26 Juli 1991, alamat rumah saya di kampung halaman di Jalan Murai no. 54 Pangkalpinang.

Tempat tinggal saya sekarang di Kota Depok, Jawa Barat dikarenakan melanjutkan pendidikan ke jenjang Kuliah, sebelumnya saya bersekolah di Bangka dari TK sampai tingkat SMA. Di Depok saya tinggal dengan Bibi, adik dari Ibu, kebetulan rumahnya berdekatan dengan kampus saya, hanya sekitar 3 km.

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini saya tidak lagi tinggal bersama keluarga saya karena melanjutkan pendidikan ke luar pulau. Ayah saya, Hamzah Bing, 45 tahun, pekerjaan sebagai pedagang dan Ibu saya, Lay Suwanti, umur 39 tahun sebagai ibu rumah tangga. Saudara laki – laki saya, Herry Setiadi, 16 tahun, masih duduk di bangku SMA.

Untuk Riwayat Pendidikan dari jenjang TK sampai jenjang SMA saya tempuh di Bangka, dan untuk jenjang kuliah barulah saya melanjutkan ke luar pulau, tepatnya di Pulau Jawa bagian barat kota Depok. Yang menjadi pilihan saya, dan dengan memikirkan beberapa aspek lagi, pilihan saya jatuhkan pada Universitas Gunadarma, untuk biaya dan juga kualitas. Dan juga ada kerabat, yaitu Bibi saya yang membuat saya dengan yakin akan pilihan yang saya buat.

Untuk pelajaran, saya rasa kelebihan saya ada pada logika dan bahasa inggris, dan kekurangan saya tidak menyukai pelajaran bertipe hafalan, maka dari itu pilihan jurusan kuliah saya adalah Ilmu Komputer, karena sedikit mata kuliah bertipe hafalan, sebaliknya banyak yang bertipe logika dan juga sesuai dengan minat dan hobi saya.

Untuk jurusan Komputer di Gunadarma sendiri terdapat 3 jurusan yang berbeda, yaitu Sistem Informasi, Sistem Komputer dan Teknik Informatika bagi jenjang S1. Minat saya awalnya jatuh pada Sistem Komputer, kedua pada jurusan Teknik Informatika, namun pada saat pendaftaran, latar pendidikan saya tidak memadai untuk mengambil kedua jurusan tersebut karena SMK saya berbasis pada Manajemen.

Lalu jurusan yang akhirnya saya pilih adalah Sistem Informasi, dan itu pun masih dengan syarat, yaitu lulus tes dengan grade 1. Setelah menjalani tes penerimaan akhirnya pun saya dapat masuk ke jurusan tersebut. Memang berbeda dari minat saya semula, namun saya sendiri menikmati kuliah di jurusan Sistem Informasi.

Dan lagi pada semester ini saya dapat diterima menjadi Asisten Laboratorium Sistem Komputer Lanjut, meskipun dulunya saya tidak dapat masuk ke jurusan tersebut, namun akhirnya saya diberi kesempatan untuk mendalami ilmu dari jurusan tersebut dan saya puas atas hasil kerja keras saya. Demikian lah tulisan ini dapat menjelaskan tentang siapa diri saya meskipun hanya sebagian kecil tentang diri saya seluruhnya.

Share:

Minggu, 13 November 2011

Tugas Softskill 2 Bahasa Indonesia

1. a. Jelaskan perbedaan topik, tema dan judul!
b. Jelaskan ciri - ciri ketiga hal tersebut!

Jawab :
a. Topik adalah hal yang pertama kali ditentukan ketika penulis akan membuat tulisan. Topik yang masih awal tersebut, selanjutnya dikembangkan dengan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas.

Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan.

Judul adalah perincian atau penjabaran dari topik. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas.

b. Ciri ciri Topik :
1. Topic harus menarik perhatian si pembaca, sehingga mampu menimbulkan rasa keingintahuan pembaca
2. Mencakup keseluruhan isi cerita

Ciri ciri Tema :
1.Dalam novel dan cerpen, tema biasanya dapat dilihat melalui persoalan yang dikemukakan.
2. Tema juga dapat dilihat melalui cara-cara watak itu bertentangan satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan.

Ciri ciri Judul :
1. Relevan dengan tema cerita tersebut, atau ada keterkaitan dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
2. Biasanya judul harus provokatif dengan menarik si pembaca dan menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi cerita tersebut.
3. Judul terdiri dari lima kata dan diusahakan tidak boleh lebih.


2. a. Bagaimana langkah - langkah membuat outline!
b. sebut dan jelaskan macam - macam outline!

Jawab :
a. Cara terbaik untuk membuat outline, adalah dengan sistematika berikut ini,
Judul Tulisan
I. Bab I
a. Keterangan Bab I
b. Keterangan Bab I
II. Bab II
a. Keterangan Bab II
b. Keterangan Bab II
III. Bab III
a. Keterangan Bab III
b. Keterangan Bab III
IV. Bab IV
a. Keterangan Bab IV
b. Keterangan Bab IV
V. Bab V, dst

b. Outline Berpola Alamiah : Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit – unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam.

Outline Berpola Logis :
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang inheren dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis .

3. Bagaimana cara pembatasan topik!
Jawab :
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut:

- Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
- Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
- Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
- Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Dengan demikian dilakukan secara berulang sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus dan cukup sempit.

4. a. Sebutkan dan jelaskan unsur - unsur alinea!
b. jelaskan ciri - ciri kalimat utama dan kalimat penjelas!
c. Sebutkan dan jelaskan macam - macam alinea!

Jawab :

a. Unsur - unsur paragraf :
1. Topik/ tema/ gagasan utama/ gagasan inti/ pokok pikiran
2. Kalimat utama atau pikiran utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Gagasan atau pikiran utama itu dapat dikembangkan ke dalam kalimat. Kalimat yang mengandung pikiran utama disebut kalimat utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, di akhir paragraf maupun diawal dan diakhir paragraf.
3. Kalimat penjelas gagasan yang fungsinya menjelaskan gagasan utma. Gasasan penjelas biasanya dinyatakan ke dalam beberapa kalimat. Kalimat yang mengandung gagasan penjelas disebut kalimat penjelas.
4. Judul (kepala karangan).
Syarat suatu judul:
a. Provokatif (menarik)
b. Berbentuk frase
c. Relevan (sesuai dengan isi)
d. Logis
e. Spesifik

b. Ciri-ciri kalimat utama:

- Biasanya diletakkan pada awal paragraph, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian akhir paragraph.

- Suatu kalimat berisikan kalimat utama ditandai oleh kata-kata kunci seperti:
* Sebagai kesimpulan….
* Yang penting….
* Jadi, …..
* Dengan demikian…

- Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat penjelas.

Ciri-ciri kalimat penjelas:
- Berisi penjelasan seperti:

* Contoh-contoh
* Rincian
* Keterangan
* Dll.

- Kalimat penjelas biasanya memerlukan kalimat penghubung.
- Selalu menghubungkan kalimat-kalimat dalam paragraph.

c. Macam - macam alinea :
1. Alinea Pembuka
Alinea pembuka merupakan bagian dari sebuah wacana atau karangan yang paling pertama kita temui. oleh karena situ, sebaiknya alinea pembuka itu disusun secara menarik agar memunculkan rasa ingin tahu kepada para pembaca. Dalam alinea pembuka sangat diharapkan dapat membimbing para pembaca untuk memasuki suatu jalan cerita atau isi dari wacana atau dengan kata lain alinea pembuka ini menyiapkan para pembaca untuk memasuki alinea isi. Rumusan alinea pembuka yang baik akan menjadi pedoman untuk pengembangan karangan menuju tingkat selanjutnya. Dengan pedoman itu maka akan tercapainya suatu kepaduan pada dalam sebuah wacana atau karangan.

2. Alinea Isi
Alinea isi merupakan suatu ide pokok beserta pengembangannya dalam sebuah wacana atau karangan. Oleh karena itu, alinea isi merupakan bagian yang esensial dalam suatu wacana atau karangan. Maksudnya adalah alinea isi menjelaskan dengan cara menguraikan bagian-bagian ide pokok tersebut. Dalam menjelaskannya harus disusun dengan berurutan dan sesuai dengan asas-asas penalaran yang masuk akal atau logis.

3. Alinea Penutup
Alinea penutup merupakan alinea-alinea yang mengakhiri atau menutup suatu wacana atau karangan. Alinea ini merupakan kebulatan dari masalah-masalah yang dikemukakan pada bagian wacana atau karanan sebelumnya. Selain itu alinea penutup juga harus mengandung kesimpulan yang benar-benar mengakhiri uraian wacana atau karangan tersebut. Karena bertugas untuk mengakhiri suatu wacana, maka alinea penutup yang baik ialah yang tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu pendek. Akan tetapi, alinea penutup harus menimbulkan kesan tersendiri bagi para pembaca.


Share:

Sabtu, 22 Oktober 2011

Tugas Softskill : DIKSI

1. Jelaskan yang menyebabkan ragam bahasa dan berikan contoh!
Yang menjadi penyebab ragam bahasa, yaitu:


Perbedaan wilayah
Setiap wilayah antara satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan budaya, misalnya wilayah Jawa dan wilayah Sumatra yang memiliki perbedaan budaya.
Perbedaan demografi
Setiap wilayah antara satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan dataran, ada yang berada di dataran pantai, dataran rendah, dataran tinggi, bahkan pegunungan. Misalnya orang-orang yang berada di daerah pantai dan dataran rendah cenderung menggunakan bahasa yang singkat dengan volume tinggi, karena dipengaruhi oleh keadaan alam, seperti angin. Sedangkan orang yang tinggal di daerah pegunungan bersuara lebih pelan dalam berkomunikasi dibandingkan orang yang berada di pantai.
Perbedaan adat istiadat
Setiap wilayah antara satu dengan yang lainnya memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, dan bahasa daerah masing-masing. Misalnya Toto adalah orang Sunda dan Sumanto dan orang Jawa, mereka saling berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Dalam berbahasa Indonesia aksen dari Toto yang merupakan orang Sunda dan Sumanto yang merupakan orang jawa berbeda karena dipengaruhi aksen dari bahasa daerah masig-masing.

2. Jelaskan perbedaan istilah umum dan istilah khusus dalam penggunaan wacana!
Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum.
Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.
Dari pengertian diatas perbedaan istilah umum dan istilah khusus adalah istilah umum lebih dipakai dalam berbahasa secara luas daripada istilah khusus yang hanya dipakai pada bidang tertentu saja.

3. Jelaskan pola kalimat dasar bahasa Indonesia!
Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola :
S-P
Saya Makan.
2. S-P-O
Dia makan nasi goreng.
3. S-P-Pel
Cincinnya bertahtakan berlian.
4. S-P-K
Padi konser di Senayan.
5. S-P-O-Pel
Budi Naik Kereta ke Mangga Dua.
6. S-P-O-Pel-K
Setiap minggu Ayah membelikan kami nasi goreng.
7. S-P-O-K
Adik minum susu setiap pagi.
8. S-P-Pel-K.
Semua pecinta musik pop sedih ketika Michael Jackson meninggal.

4. Jelaskan syarat-syarat kalimat efektif!
Kalimat efektif memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan pikiran pembicara atau penulisnya.
Kalimat yang efektif harus dapat menyampaikan gagasan yang disampaikan pembicara atau penulis secara tepat sehingga tidak diartikan lain oleh pendengar atau pembaca. Oleh karena itu kalimat efektif tidak boleh bermakna ambigu dan memakai bahasa konotasi yang akan menyebabkan pendengar atau pembaca mengartikan berbeda antara satu dengan yang lainnya.



Referensi

http://jurnal-sastra.blogspot.com/2009/02/penelitian-variasi-pola-kalimat-bahasa.html

http://organisasi.org/pengertian_kalimat_dan_unsur_kalimat

http://sitompulke17.wordpress.com/2009/11/03/struktur-kalimat-bahasa-indonesia/


Share:

Selasa, 18 Oktober 2011

Softskill : DIKSI

BAB 1

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Bahasa terbentuk dari beberapa tataran gramatikal, yaitu dari tataran terendah sampai tertinggi adalah kata, frase, klausa, kalimat. Ketika anda menulis dan berbicara, kata adalah kunci pokok dalam membentuk tulisan dan ucapan. Maka dari itu kata-kata dalam bahasa Indonesia harus dipahami dengan baik, supaya ide dan pesan seseorang dapat dimengerti dengan baik. Kata-kata yang digunakan dalam komunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana. Tidak dibenarkan menggunakan kata-kata dengan sesuka hati, tetapi harus mengikuti kaidah-kaidah yang benar.

Menulis merupakan kegiatan yang menghasilkan ide secara terus-menerus dalam bentuk tulisan yang teratur yang mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan(ekspresif). Untuk itu penulis atau pengarang membutuhkan keterampilan dalam hal struktur bahasa dan kosa kata. Yang terpenting dalam menulis adalah penguasaan kosa kata yang merupakan bagian dari diksi. Ketepatan diksi dalam membuat suatu tulisan atau karangan tidak dapat diabaikan demi menghasilkan tulisan yang mudah dimengerti.

Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata pengarang dalam mengggambarkan “cerita” pengarang. Walaupun dapat diartikan begitu, diksi tidak hanya pilih-memilih kata saja atau mengungkapkan gagasan pengarang, tetapi juga meliputi gaya bahasa, ungkapan-ungkapan.

B. Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Pengertian diksi atau pilihan kata dalam bahasa Indonesia

2. Pembentukan kata atau istilah

C. Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui arti diksi atau pilihan kata dalam bahasa Indonesia dan menghasilkan tulisan yang indah, enak dibaca, dan mudah dipahami pada setiap kata yang ingin disampaikan.

D. Manfaat

Manfaat dibuatnya makalah ini adalah, sebagai berikut:

1. Mahasiswa dapat mengetahui pilihan kata yang baik dalam pengolahan kata.

2. Menguasai berbagai macam kosakata dan mempu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi kalimat yang jelas, efektif dan efisien.

3. Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.



BAB 2

ISI


A. Pengertian Diksi atau Pilihan Kata

Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata, gaya bahasa, ungkapan-ungkapan pengarang untuk mengungkapkan sebuah cerita.
Agar menghasilkan cerita yang menarik, diksi atau pemilihan kata harus memenuhi

syarat-syarat sebagai berikut:

1. Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan gagasan.

2. Pengarang harus memiliki kemampuan dalam membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna, sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembaca.

3. Menguasai berbagai macam kosakata dan mempu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi kalimat yang jelas, efektif, dan efisien.

Contoh paragraf:

1. Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan teman-temanku. Udara di sana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.

2. Liburan kali ini Aku dan teman-temanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak heti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari di sana. Kami pulang dengan hati senang.
Kedua paragraph diatas memiliki makna yang sama, tetapi dalam pemilihan kata atau diksi, paragraph kedua lebih menarik bagi pembaca karena enak dibaca dan tidak membosankan.

B. Syarat-Syarat Pemilihan Kata

1. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Makna denotatif sering disebut makna konseptual. Misalnya, kata makan yang bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah dan ditelan.

Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan pada makna konotatif berarti untung atau pukul. Makna konotatif selalu berubah dari zaman ke zaman. Contoh lainnya misalnya kamar kecil dapat bermakna konotatif jamban, sedangkan makna denotative adalah kamar yang kecil.

2. Makna Umum dan Makna Khusus

Kata umum adalah kata yang acuannya lebih luas. Kata khusus adalah kata yang acuannya lebih sempit atau khusus. Misalnya ikan termasuk kata umum, sedangkan kata khusus dari ikan adalah mujair, lele, gurami, gabus, koi. Contoh lainnya misalnya lele dapat menjadi kata umum, jika kata khususnya adalah lele lokal, lele dumbo.

3. Kata Konkrit dan Kata Abstrak

Kata konkrit adalah kata yang acuannya dapat diserap oleh pancaindra. Misalnya meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang acuannya sulit diserap oleh pancaindra. Misalnya perdamaian, gagasan. Kegunaan kata astrak untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak dapat membedakan secara halus antara gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Pemakaian kata abstrak yang banyak pada suatu karangan akan menjadikan karangan tersebut tidak jelas dalam menyampikan gagasan penulis.

4. Sinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Misalnya kata cermat dan cerdik yang keduanya bersinonim, tetapi keduanya tidaklah sama persis.

5. Kata Ilmiah dan Kata Populer

Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum pelajar dalam berkomunikasi maupun dalam tulisan-tulisan ilmiah seperti karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, desertasi. Selain itu digunakan pada acara-acara resmi. Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat umum.

Berikut adalah contoh dari kata-kata tersebut.

Kata Ilmiah:
Analogi
Final
Diskriminasi
Prediksi
Kontradiksi
Format
Anarki
Biodata
Bibliografi

Kata Popular:
kiasan
akhir
perbedaan perlakuan
ramalan
pertentangan
ukuran
kekacauan
biografi singkat
daftar pustaka

C. Pembentukkan Kata

Terdapat dua cara dalam pembentukkan kata, yaitu dari luar dan dari dalam bahasa Indonesia. Pembentukkan dari dalam yaitu terbetuknya kata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar melalui proses serapan.

1. Kesalahan Pembentukkan dan Pemilihan Kata
Pada subbab ini akan disebutkan kesalahan dalam pembentukkan kata, yang sering ditemukkan dalam bahasa lisan maupun tulis.

1. Penanggalan awalan meng-
2. Penanggalan awalan ber-
3. Peluluhan bunyi /c/
4. Penyengauan kata dasar
5. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh
6. Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir
7. Padanan yang tidak serasi
8. Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
9. Penggunaan kesimpulan, keputusan, penalaran, dan pemukiman
10. Penggunaan kata yang hemat
11. Analogi
12. Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia

2. Definisi

Definisi adalah suatu pernyataan yang menerangkan pengertian suatu hal atau konsep istilah tertentu. Dalam hal membuat definisi hal yang tidak boleh dilakukan adalah mengulang kata yang kita definisikan.

Contoh definisi:

Majas personifikasi adalah kiasan yang menggambarkan binatang, tumbuhan dan benda-benda mati seakan hidup selayaknya manusia, seolah punya maksud, sifat, perasaan dan kegiatan seperti manusia. Definisi terdiri dari:

1. Definisi nominalis

Definisi nominalis adalah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti. Biasanya digunakan untuk membuka suatu pembicaraan atau diskusi.

2. Definisi realis
Definisi realis adalah penjelasan tentang isi yang terkandung dalam sebuah istilah, bukan hanya menjelaskan tentang istilah. Defiisi realis terbagi atas
- Definisi esensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan perbedaan antara penjelasan dengan cara menunjukkan bagian-bagian suatu benda(definisi analitik) dengan penjelasan dengan cara menunjukkan isi dari suatu term yang terdiri atas genus dan diferensia(definisi konotatif).
- Definisi diskriptif, yaitu pejelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat khusus yang menyertai hal tersebut dengan penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana suatu hal terjadi.

3. Definisi praktis
Definisi praktis adalah penjelasan tentang suatu hal yang dijelaskan dari segi kegunaan atau tujuan. Definisi praktis terbagi atas tiga macam

- Definisi operasional, yaitu penjelasan dengan cara menegaskan langkah-langkah pengujian serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat diamati.
- Definisi fungsional, yaitu penjelasan sesuatu hal dengan cara menunjukkan kegunaan dan tujuannya.
- Definisi persuasif, yaitu penjelasan dengan cara merumuskan suatu pernyataan yang dapat mempengaruhi orang lain, bersifat membujuk orang lain.

3. Kata Serapan

Kata serapan adalah kata yang diadopsi dari bahasa asing yang sesuai dari EYD. Kata serapan merupakan bagian perkembangan bahasa Indonesia. Kosa kata bahasa Indonesia banyak yang menyerap dari bahasa asing. Bahasa-bahasa asing yang diserap kedalam bahasa Indonesia antara lain bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris dan Tionghoa. Penyerapan kata kedalam bahasa Indonesia meliputi dua unsur, yaitu:

- Keteraturan bahasa(analogi): dikatakan analogi jika kata tersebut memiliki bunyi yang sesuai antara ejaan dan pelafalannya.
- Penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa(anomali): dikatakan anomali apabila kata tersebut tidak sesuai antara ejaan dan pelafalannya.

4.Analogi

Karena analogi adalah keteraturan bahasa, tentu saja lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa, baik dalam bentuk fonologi, sistem ejaan, atau struktur bahasa. Beberapa kata yang sudah sesuai dengan sistem fonologi, baik melalui proses penyesuaian maupun tidak, misalnya:

Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
aksi action(inggris)
bait bait(arab)
boling bowling(inggris)
dansa dance(inggris)
derajat darrajat(arab)
ekologi ecology(inggris)
fajar fajr(arab)
insane insane(arab)

Menurut taraf integrasinya unsur pinjaman dari bahasa asing dapat dibagi dua golongan. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur pertama ini digunakan dalam bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan pengucapannya masih mengikuti aturan bahasa asing. Unsur yang kedua kata pinjaman yang penulisan dan pengucapannya telah disesuaikan ke dalam bahasa Indonesia.

5. Anomali

Perhatikan kata-kata berikut ini
Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
bank bank(inggris)
intern intern(inggris)
qur’an qur’an(arab)
jum’at jum’at(arab)

Beberapa kata diatas merupakan kata yang mengandung unsur anomali. Bila diamati lafal yang kita keluarkan dari mulut dengan ejaan yang tertera, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yaitu bank=(nk), jum’at=(’).
Sedangkan kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh tanpa mengalami perubahan penulisan memiliki kemungkinan untuk dibaca bagaimana aslinya, sehingga timbul anomali dan fonologi, seperti contoh berikut

Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
expose expose
export export
exodus exodus

Kadang-kadang kata tidak hanya satu morfem, ada juga yang terdiri dari dua morfem atau lebih, sehingga penyerapannya dilakukan secara utuh, misalnya

Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
federalisme federalism(inggris)
bilingual bilingual(inggris)
dedikasi dedication(inggris)
edukasi education(inggris)


BAB 3

PENUTUP


A. Kesimpulan

Kreatifitas dalam memilih kata merupakan kunci utama pengarang dalam menulis gagasan atau ungkapan. Penguasaan dalam pengolahan kata juga merupakan kunci utama dalam menghasilkan tulisan yang indah, enak dibaca, serta ide yang ingin disampaikan penulis dapat dipahami dengan baik.

Diksi adalah kemampuan penulis untuk mendapatkan kata agar dalam pembacaan dan pengertiannya tepat.

Kata ilmiah adalah kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pembentukkan kata atau istilah adalah kata yang mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.
Definisi adalah suatu pernyataan yang menerangkan pengertian suatu hal atau konsep istilah tertentu.

Kata serapan adalah kata yang diadopsi dari bahasa asing yang sudah sesuai dengan EYD.


DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Moeliono, Anton M. 1982 “Diksi atau Pilihan Kata: Suatu Spesifikasi di dalam kosa kata” Dalam Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia. Jilid III. Nomor 3. Jakarta: Bharata.

http://dinamika.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/28102008121137_PAPER_BAHASA_INDONESIA1_fix.doc

http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+
bahasa+indonesia&star=10&sa
Share:

disable copas

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Hi, My name is Benny Setiadi. Welcome to my blog, I'm sharing lots of content here related with my interest, Technology updates, Programming, Android and Augmented Reality. Hope my blog could be useful and have benefits for everyone. Please enjoy :).